REVIEW – THE HOLDOVERS

REVIEW - THE HOLDOVERS

REVIEW – THE HOLDOVERS

BestStorageAuctions – Film tidak harus tampil “mengguncang” untuk bisa menyentuh hati. Terkadang, seperti pelukan lembut penuh kasih sayang, suatu karya mampu menghangatkan perasaan penonton justru berkat kesederhanaan miliknya. Alexander Payne termasuk satu dari beberapa sineas yang konsisten mengusung gaya bercerita itu, termasuk di film terbarunya, The Holdovers. 

Sadar atau tidak, para karakter di The Holdovers sebenarnya juga membutuhkan pelukan lembut penuh kasih sayang. Mengambil latar tahun 1970 di sebuah sekolah asrama yang hendak memasuki masa libur Natal dan tahun baru, sosok pertama yang kita temui adalah Paul Hunham (Paul Giamatti), seorang guru yang dibenci baik oleh murid maupun sesama guru akibat sikap kakunya.

BACA JUGA : REVIEW – MADAME WEB

Paul ditugaskan menjaga lima murid yang tinggal di asrama selama liburan. Mary (Da’Vine Joy Randolph) si manajer kafetaria yang masih berduka selepas kematian putera tunggalnya di Perang Vietnam pun turut serta. Singkat cerita, dari kelima murid itu, hanya Angus (Dominic Sessa) yang tersiksa, dan terpaksa menghabiskan sekitar dua minggu tinggal bersama guru yang ia benci. Meski kerap jadi biang masalah, Angus sejatinya adalah murid yang pintar (hanya dia yang mendapat nilai B+ di kelas Paul).

Semua orang menyimpan cerita yang di dalamnya mengandung luka. Begitulah yang akan kita dan tiga tokoh utamanya pelajari selama 133 menit durasi filmnya. Sewaktu Paul mengutarakan sentimen negatif terkait para murid kaya yang dianggapnya cuma mengenal kebahagiaan berkat privilege mereka, Mary yang sebagai perempuan kulit hitam merasakan privilege terkecil di antara ketiganya, dengan tegas menjawab, “You don’t know that!“.

Mengedepankan semangat natal, naskah garapan David Hemingson menyampaikan pentingnya berbagi kasih dalam kebersamaan keluarga. Tentu “keluarga” di sini tidak melulu diisi orang-orang dengan hubungan darah. Trio protagonisnya mewakili gagasan chosen family. Paul seperti ayah yang keras dan kebingungan bagaimana cara membangun koneksi dengan sang anak, Angus adalah anak di fase remaja yang gemar memberontak dan penuh amarah, sedangkan Mary bak ibu yang meneduhkan.

BACA JUGA : REVIEW – BOB MARLEY: ONE LOVE

Ketiganya memiliki kesamaan. Pertama, mereka sama-sama mengaku menyukai kesendirian. Paul enggan menikah karena merasa bahagia tiap menjalani waktu personalnya, Mary menikmati tinggal seorang diri, sementara Angus pernah berkata, “friends are overrated“. Kesamaan kedua? Di luar pernyataan-pernyataan di atas, sesungguhnya mereka memerlukan kebersamaan.

Seiring kebersamaan ketiganya terjalin, kehangatan makin terasa berkat penampilan jajaran pemainnya. Ketika Giamatti menyampaikan “luka yang terpendam” melalui kekakuan yang tak jarang menghasilkan kecanggungan, Randolph menyalurkannya lewat ketenangan yang acap kali memilukan. Di sisi lain Dominic Sessa membawa interpretasi lebih dalam yang menjauhi keklisean teenage angst. 

Diiringi perpaduan lagu natal dan folk yang mendamaikan, Payne mampu menyulut dampak emosi tanpa terkesan memaksa penonton. Sekali lagi, sederhana. Sebuah kesederhanaan memikat, yang selain memotret hangatnya kebersamaan juga mengingatkan akan pentingnya masa lalu. Sebab masa kini yang kerap kita utamakan pun kelak bakal menjadi masa lalu, menyisakan cerita untuk dikenang, juga ilmu yang membuat kita berkembang.

Tersedia Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top