REVIEW – BOB MARLEY: ONE LOVE

REVIEW - BOB MARLEY: ONE LOVE

REVIEW – BOB MARLEY: ONE LOVE

BestSrtorageAuctions – Ditemani lagu-lagu klasik seperti Exodus, Redemption Song, hingga No Woman, No Cry, perasaan yang hinggap selepas menonton Bob Marley: One Love kemungkinan bersifat positif. “Puas” mungkin jadi kata yang banyak muncul. Tapi filmnya sendiri bukan biopic yang spesial. Didasari gagasan bercerita yang menarik, seiring waktu ia justru tampil semakin generik dan tak selalu berhasil memainkan nada yang tepat.

Sejatinya naskah buatan sang sutradara, Reinaldo Marcus Green, bersama Terence Winter, Frank E. Flowers, dan Zach Baylin, punya niat untuk membawa warna berbeda. Ketimbang secara runtut menyoroti perjalanan karakternya sejak kecil, Bob Marley: One Love memilih satu fase penting hidup sang legenda reggae, kemudian membangun narasi yang berpusat padanya.

BACA JUGA : REVIEW – THE ZONE OF INTEREST

Titik yang dimaksud adalah akhir 70-an, tatkala konflik beraroma politis yang memecah-belah Jamaika mendorong Bob Marley (Kingsley Ben-Adir) untuk menggelar konser perdamaian. Di tengah persiapan konser, terjadilah upaya pembunuhan terhadap Marley. Dia dan beberapa anggota band The Wailers tertembak, termasuk Rita (Lashana Lynch), istri Marley yang sempat koma akibat luka di kepala.

Langsung menyoroti Bob Marley di puncak karirnya merupakan pilihan yang lumayan menarik, namun Green dan tim tak pernah benar-benar berani mengolah bentuk narasi tersebut dan malah kembali beralih ke gaya konvensional, saat sesekali menyelipkan kilas balik ke masa kecil Marley yang seringkali kemunculannya terkesan acak.

Pasca penembakan tadi, latarnya berpindah ke London, tempat Marley mengasingkan diri sembari menyiapkan album terbarunya (Exodus, 1977). Satu hal yang patut diapresiasi dari naskahnya adalah bagaimana ia menolak menggambarkan Bob Marley sebagai figur sakral nan sempurna, meski citra sang musisi yang cinta damai sebenarnya amat memungkinkan hal itu dilakukan.

Bob Marley di London bukanlah sosok suci. Rasa sakit hati mendapati sesama warga Jamaika mencoba membunuhnya membuat Marley meninggalkan kampung halaman. Lalu ketika album Exodus meledak, Marley yang mulai dikelilingi banyak figur penting mulai melupakan jati diri serta tujuan awalnya bermusik. Pun nantinya terungkap bahwa di luar cinta yang teramat sangat pada satu sama lain, Marley dan Rita nyatanya saling menyelingkuhi.

Berpijak dari masalah-masalah di atas, ditambah diagnosis yang Marley terima mengenai penyakit kanker kulit langka yang ia derita, Bob Marley: One Love menjabarkan proses yang senada dengan prinsip rastafari, yaitu perjalanan mencari kedamaian. Bob Marley bermimpi bisa menciptakan kedamaian dunia melalui musiknya, karena itulah ia merasa perlu memperoleh kedamaian hati terlebih dahulu.

BACA JUGA : REVIEW – TANDUK SETAN

Bicara soal musik, adegan saat Marley dan The Wailers merumuskan lagu Exodus jadi salah satu momen terbaik filmnya. Esensi dari penciptaan karya yang mengawinkan aliran perasaan dan luapan kreativitas berhasil diwakili oleh adegan tersebut. Sedangkan ketika musik dibawakan di panggung, tibalah giliran bagi Kingsley Ben-Adir memancarkan sinarnya.

Jika di bawah panggung Lashana Lynch lewat letupan emosinya yang menusuk jadi pencuri perhatian, maka di atas panggung, Ben-Adir adalah bintang. Serupa Bob Marley, sang aktor bergerak liar bak orang kesurupan di tengah ritual sakral. Mungkin memang itu yang ada di benak Bob Marley kala beraksi di panggung. Musik adalah agama, dengan pertunjukan sebagai wujud ibadahnya.

Sayang, pertunjukan puncak yang dinanti-nanti dan berpotensi jadi klimaks epik nan emosional, yakni konser OLPC (One Love Peace Concert), di mana Marley berhasil menyatukan dua rival politik, Michael Manley dan Edward Seaga, justru dilewati (film usai saat konser hendak dimulai). Mungkin Green ingin Bob Marley: One Love lebih berfokus pada proses ketimbang hasil, tapi dalam konteks biopic konvensional, keputusan itu rasanya kurang tepat.

Tersedia Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top