REVIEW – RONGGENG KEMATIAN

REVIEW - RONGGENG KEMATIAN

REVIEW – RONGGENG KEMATIAN

BestStorageAuctions – Hadi (Chicco Kurniawan) adalah anak lurah, sedangkan pacarnya, Larasati (Claresta Taufan Kusumarina), baru saja lulus SMA. Larasati ingin bekerja sebagai abdi negara, tapi sang ibu (Patty Angelica Sandya) berharap ia bisa menjadi penari ronggeng baru di desa mereka, Mangunsari. Selama 20 menit pertama kita dibawa mengikuti hidup keduanya, sebelum filmnya tiba-tiba mengubah arah.

Ronggeng Kematian yang diadaptasi dari novel Ronggeng Pembalasan Sulastri karya Arumi E. dan Sukhdev Singh merupakan film yang penuh “kesadaran”. Para pembuatnya, terutama Verdi Solaiman yang melakoni debut penyutradaraan solo serta Alim Sudio selaku penulis naskah, memahami kekurangan apa saja yang kerap menjangkiti horor lokal, lalu secara sadar menjauhkan film ini dari lubang-lubang tersebut. Apakah berhasil? Kurang lebih.

Apa yang kita saksikan di 20 menit pertama biasanya sebatas hadir dalam bentuk flashback di paruh akhir, sebagai cara instan untuk menjabarkan latar belakang teror yang karakternya alami (asal muasal si hantu, motivasinya menebar ketakutan, dll.). Ronggeng Kematian enggan menempuh jalur serupa. Film ini ingin karakter-karakter seperti Larasati dan Hadi lebih tergali, alih-alih sebatas alat tanpa nyawa yang bertugas memfasilitasi balas dendam si hantu.

BACA JUGA : REVIEW – GODZILLA X KONG: THE NEW EMPIRE

Barulah setelah itu konflik utamanya terungkap. Di adegan pembuka kita melihat bagaimana Sulastri (Cindy Nirmala), ronggeng kebanggaan Mangunsari, mendadak hilang selepas menari di depan beberapa orang. Nantinya terungkap bahwa orang-orang itu adalah: Adit (Revaldo), Yudi (Dito Darmawan), Ricky (Krisjiana Baharuddin), dan Akhsan (Allan Dastan).

Berkat kincir angin yang mereka bangun saat menjalani KKN tujuh tahun lalu, keempatnya dianggap sebagai pahlawan oleh warga desa. Kini mereka diundang lagi ke Mangunsari untuk diberi hadiah atas jasa tersebut. Kita berkenalan dengan kuartet ini pada kedatangan kedua mereka di Mangunsari, bukan yang pertama. Sebuah modifikasi kecil yang cukup memberi pembeda dibanding horor bertema “pemuda kota masuk desa” lain, meski cara alurnya bertransisi dari kisah mengenai Larasati berlangsung kurang mulus.

Satu lagi penyakit khas horor Indonesia yang berhasil film ini hindari adalah ketergantungan pada jumpscare. Serupa dengan yang ia capai belum lama ini di Kuyang: Sekutu Iblis yang Selalu Mengintai, Alim mengorbankan penampakan berisik guna memberi ruang pada presentasi misteri serta kultur mistis. Misterinya masih bergerak sesuai pakem horor mengenai arwah yang menuntut balas, namun eksekusi yang cenderung rapi membuatnya tetap efektif menarik atensi.

BACA JUGA : REVIEW – AGAK LAEN

Mungkin beberapa penonton, khususnya yang belum familiar dengan kultur tari ronggeng, akan kesulitan menangkap elemen budaya mistis yang dipaparkan dengan cukup subtil. Saya setuju bahwa sebuah film tidak harus selalu menyuapi penonton, namun dalam beberapa aspek (terutama terkait pengaruh kehadiran ronggeng dengan kemakmuran desa), tambahan konteks rasanya diperlukan.

Babak pamungkasnya membanjiri layar dengan darah, meski sayangnya terdapat kematian-kematian yang tersaji canggung. Bisa dimaklumi mengingat ini adalah debut Verdi Solaiman di balik kamera. Apalagi ia tetap menawarkan “value” dan bukannya asal merekam. Tatkala banyak horor kita begitu betah bergelap-gelapan, Verdi memilih memanfaatkan tata cahaya berupa warna-warni merah, yang walaupun tak seberapa menambah kengerian, jelas merupakan sentuhan estetika menarik yang menandakan kesadaran para pembuat film ini untuk tampil lebih baik.

Tersedia Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top