REVIEW – KELUAR MAIN 1994

REVIEW - KELUAR MAIN 1994

REVIEW – KELUAR MAIN 1994

BestStorageAuctions – Geliat film Makassar sungguh menarik disimak. Pasca gebrakan mengejutkan Uang Panai’ yang pada tahun 2016 mampu menembus 500 ribu penonton, perilisan film Makassar di bioskop nasional bukan lagi peristiwa langka. Sayangnya jika membicarakan kualitas, belum ada peningkatan berarti walau sewindu telah berlalu. Sampai kapan stagnasi bakal terjadi?

Keluar Main 1994 mungkin adalah jawaban untuk keresahan di atas. Kalau Uang Panai’ mengangkat status komersil sinema Makassar, maka karya terbaru Ihdar Nur (Halo Makassar, Anak Muda Palsu) ini berpotensi menjadi titik balik dalam hal kualitas.

Menilik judulnya, ingatan segera terlempar menuju trilogi drama Korea legendaris Reply. Lebih spesifik lagi Reply 1988 (2015-2016) selaku installment paling populer. Kalau lagu About Last Night milik Sobangcha mengiringi perjalanan menilik masa lalu Korea Selatan, di film ini, Anak Sekolah yang dinyanyikan Chrisye mewakili wajah dunia SMA Indonesia.

BACA JUGA : REVIEW – LAMPIR

Protagonisnya adalah Ibo (Arif Brata), siswa SMA yang semasa SD dan SMP pernah tinggal kelas akibat malas belajar. Ketimbang membaca buku matematika, Ibo lebih suka menendang bola bersama tiga sahabatnya, Jefri (Oki Daeng Mabone), Ippank (Hendrix Adi Surya), dan Concong (Bryant Onardo).

Sederet peristiwa terjadi sepanjang 1994, yang kita pelajari baik melalui dialog maupun siaran radio yang melatari adegan. Salah satu yang paling menarik perhatian tentu saja Piala Dunia, yang disambut antusias oleh Ibo karena sang idola yang menginspirasinya menjadi kiper, René Higuita, tampil menjaga gawang Kolombia. Masalahnya di dunia nyata, Higuita tidak ambil bagian karena tengah dipenjara. Naskah buatan Elvin Miradi memang sedikit “curang” di sini. Belum lagi pilihan untuk membuat Ibo menyaksikan “tendangan kalajengking” Higuita yang baru terjadi tahun 1995.

Tapi lubang tersebut hanya dosa kecil yang bisa dipandang sebagai kebebasan eksplorasi artistik seorang pembuat karya. Apalagi di luar permasalahan itu, Elvin yang baru menjalani debut layar lebarnya mampu bercerita jauh lebih rapi daripada banyak penulis film senior. Durasi yang tidak bisa disebut pendek (112 menit) tak meninggalkan rasa lelah, bergulir apik menyampaikan proses Ibo mencari keseimbangan hidup.

“Keseimbangan”. Pesan itu pula yang membuat saya terpikat pada Keluar Main 1994. Ibo mencintai sepak bola, namun sang ayah (Andreuw Parinussa) memaksanya meninggalkan hobi itu supaya bisa mengikuti bimbingan belajar. Pikiran Ibo juga dipenuhi oleh sosok seniornya, Vivi (Alisa Safitri). Kedekatan keduanya kelak menimbulkan konflik dengan trio sahabat Ibo yang merasa ditinggalkan.

BACA JUGA : REVIEW – DREAM SCENARIO

Naskahnya menyatakan bahwa Ibo (dan kita semua) tidak harus menentukan pilihan. Membuang satu hal berharga demi hal lain bukan suatu kewajiban asal keseimbangan mampu didapat.

Penulisan komedinya tidak kalah bersinar. Didukung oleh jajaran pemain yang cukup piawai melakoni humor, Keluar Main 1994 bisa saja menempuh jalan gampang dengan asal melempar kekonyolan. Untungnya tidak. Materinya mengutamakan kreativitas yang mengeksplorasi beragam bentuk, dari humor absurd, verbal, fisik, visual, hingga kombinasi seluruhnya.

Sementara penyutradaraan Ihdar Nur menegaskan tujuan filmnya tampil lebih “mahal”. Bahkan di situasi absurd sekalipun, pengarahan Ihdar tidak pernah berlebihan. Tidak ada pemakaian efek suara konyol atau music cue yang bertujuan mengarahkan kapan penonton mesti tertawa. Ada kalanya pendekatan itu membuat humornya tak mengenai sasaran, namun di sisi lain itu merupakan bukti kepercayaan sang sutradara terhadap materi, pemain, serta penontonnya.

Tersedia Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top